aksesoris


ShoutMix chat widget

Rabu, 19 Oktober 2011

-hidupku yang brengket 2-

Ini sudah siang, pukul 12.28 pm.

Bosan. Duduk di ruang kerjaku, ruang yang pernah kuceritakan padamu: ruang sempit dengan pembatas banner sisa-sisa.

Haus rasanya. Tak ada yang bisa ku minum kecuali kopi pahit sisa semalam yang kubeli dengan Ghinand. Ia sedang menerapkan program belajar yang pernah aku pakai sewaktu SMA sampai menjelang kuliah. Pukul dua pagi, ia kubangunkan dan membaca-baca sampai subuh tiba, kemudian dilanjutkan dengan menulis selama satu jam sampai menjelang waktu kuliah. Aku senang anak itu menurut, ia mau diarahkan untuk jadi lebih baik. Tapi, apa dia akan jadi lebih baik dengan aku arahkan demikian? Aku tidak tau, yang pasti dia harus jadi seseorang yang cerdas, tapi bukan kopian dari diriku (mohon jangan anggap aku cerdas, sebab aku sering merasa bodoh).

Baru saja aku menelfon dosenku dan membikin janji untuk bertemu malam ini di kontrakannya. Aku akan bimbingan skripsi: rutinitas paling purba yang dulu kutentang mati-matian, tapi sekarang aku lakukan dengan patuh. Berkutat pada teori yang sombong dengan memetakan manusia dan menganggap dunia hanya akan bekerja dengan metodenya yang kaku. Bagiku, kemanusiaan lebih agung ketimbang sebuah teori yang dengan piciknya mengkotakkan dunia.

Kau tau? Ah, kau pasti tidak tau. Tapi tidak apa-apa, aku ceritakan saja ya! Dan kau harus menyimak. Ini soal kuliah yang kuanggap sebagai sebuah kesalahan yang paling fatal. Tapi, aku terlambat. Aku sudah tua di bangku kuliah, dan aku harus menyelesaikan; mau tak mau. Kalau saja aku bisa kembali memutar waktu untuk kembali pada saat menjadi mahasiswa baru, dengan kesadaran seperti sekarang, mungkin aku sudah hengkang dan memilih untuk mengembara. Sesuatu yang pernah ku bahasakan dalam sajak: di kota-kota yang dilukis telanjang, di sanalah aku akan pergi. Tapi dimana kota-kota yang kumaksudkan dalam sajak itu? Jogja, kah? Atau mungkin Solo? Pemberhentian dengan wangi sihir di ketiaknya. Membuatku selalu merasa “mabuk” rindu candu. Di kota yang menjadi tujuanku, aku akan berproses sendiri dengan Kitab Tuhan paling sakti, kitab yang butuh jutaan tahun menerjemahkannya; master piece ciptaan Tuhan – manusia.

Aku merasai waktu aku menjadi bebal sudah semakin dekat, sesuatu yang membuatku gila dini. Ayoh, ada yang tertarik menjadi gila di usia muda?

Selasa, 18 Oktober 2011

-hidupku yang brengket-

Ini hidup yang berengket, atau aku saja yang sebenarnya berengket?

: Sesuatu yang hampir muskil kubedakan.

Siapa yang sebenarnya salah? Atau mungkin kau bisa menilik diriku; mencoba menerka-nerka siapa diriku yang sebenarnya. Dengan mengamati apa dan bagaimana aku hidup; yang berantakan, rumit dan tidak menyenangkan.

Di balik sebuah banner panjang yang menutupi sebuah pojok ruangan. Rak sepatu yang disulap menjadi tempat menyimpan buku dan arsip organisasi ada di balik banner itu. Sebuah kardus penyok, dengan tempat penyimpanan arsip yang penuh dengan kotoran rayap. Jarang ada surat yang masuk ke tempat itu. Semuanya berantakan: surat-surat, proposal, materi jurnalistik, berserakan begitu saja di lantai. Jika ia bernasib baik: ia selamat. Kalau tidak: menjadi tempat alas kopi atau untuk membungkus bangkai cicak yang berbau busuk dan kerap membuat hidungku menjadi bebal.

Ada juga sebuah tas cangklong kuning pemberian kekasihku yang sudah lama tidak terjamah sabun. Mungkin sudah puluhan noda ada di situ. Ia menjadi tempatku menyimpan buku bahan skripsi. Di balik banner itu pula, ada sebuah asbak dari gips, dengan ukiran timbul perempuan telanjang yang tidur terlentang di pinggiran asbak itu. Bagian kemaluannya sudah berwarna hitam pekat –bekas abu– karena di sanalah tempat faforit untuk mematikan abu rokok bagi kawan-kawanku di sekertariat. Mengerikan.

Bersambung...

Kamis, 06 Oktober 2011

-bebal-

Aku ragu kau pernah hidup dari jalanan. Harga diri tak kau junjung tinggi; begitu bodoh untuk memahami arti kata: pergi. Apa itu sulit? Bagaimana kalau kita sama-sama buka kamus dan aku mengajarimu dengan kepal tangan - dendam. Segala perjalanan yang pernah ada lupakan saja sekarang. Tidak ada pembenaran untukku bisa menerimamu kembali. Segalanya tiba-tiba jadi begitu menjijikkan. Kau bebal dengan idiologimu yang usang. Tapi bukan itu, kawan. Itu tidaklah yang utama. Segala susu dan tiap kemanisan kau balas dengan arak. Apa kau mengajak mabuk, lalu kita berkelahi seperti dua ekor serigala? Menarik itu, kapan saja kau siap.

Lihat, bahasamu saja tidak merdeka. Dalam merayu perempuan pun, mungkin kau juga memakai hal yang sama. Kata orang bodoh: tidak ada yang lebih mengerikan ketimbang menjadi kopian orang lain. Bagaimana, kawan, apa kau sudah mengambil kesimpulan?

Senin, 19 September 2011

Suamiku Seorang ...

Selamat malam, aku tak punya kawan.

Rasa jengah membawaku sampai ke warung kopi. Menemui segala sesuatu yang tak ku tau. Menangisi diri dengan sebuah kesadaran yang membuatku sakit: ternyata aku masih sangat bodoh. Aku mesih harus banyak belajar. Tapi dengan apa? Aku malas melakukan sesuatu. Entah berapa hal busuk mencemari sungai di otakku, hingga yang kurasakan sekarang sungai itu telah menjadi selokan yang sekaligus menjadi sarang tikus. Mengerikan, bukan?

Di warung, aku kembali melihat wajah Sapari – kawan (penjaga warkop) – yang sedang resah. Setelah ia membuatkan kopi untukku, ia menghampiriku, duduk di sebelahku dan bicara dengan nada yang setengah berbisik: “Tra, koen ngerti nggone ramayana nang Suroboyo? (Tra, kamu tau tempat ramayana di Surabaya?)”

Aku mengangguk, “Yo, ramayana endi? Ramayana Suroboyo iku akeh (ya, ramayana yang mana? Ramayana di Surabaya itu banyak)”

Kini wajahnya nampak murung. Ia berdiri dan meninggalkan aku kembali ke tempatnya biasa duduk. Kali ini ia melempar suntuknya dengan membenamkan diri dalam acara bola.

Tiba-tiba seorang lelaki menggebrak meja karena kalah taruhan. Wajahnya (sapari) semakin muram. Ada apa dengan orang itu?

Tak berselang lama, ketika aku sedang menekuri teks jurnal, seorang ibu-ibu yang biasa ku lihat sedang resah dengan keranjang di lengan kirinya. Ia menanyakan apa benar sepeda yang diparkir di depan warkop itu adalah sepedaku. Aku mengangguk, ia memintaku mengantarkannya sampai ke rumahnya di sadang dengan upah Rp.2000. Perempuan itu juga menawari aku jajanan yang dibawannya.

Ku lirik Sapari. Ia mengisyaratkan agar aku menolak tawaran perempuan tua itu, tapi aku yang menolak isyarat Sapari. Aku memilih mengantar perempuan tua itu pulang. Sebab ia tak akan mendapatkan bemo di jam-jam seperti ini. Waktu menunjukkan pukul 23.30 malam.

Sepanjang perjalanan, perempuan itu terus saja bicara banyak persoalan yang tak ku mengerti. Soal suaminya yang kuliahnya dulu tak selesai, soal suaminya yang suka menggoda perempuan-perempuan muda dan uangnya habis dengan mereka, atau tentang pekerjaan suaminya yang sering dipindah-pindah.

Aku jadi kembali berpikir, apa sedemikian tengik hidup bersama dalam rumah tangga hingga kita mesti mencari alternatif lain di luar?

Aku tak tau, atau paling tidak belum pernah merasakannya! Maaf, bu, saya tak berhak menjawab pertanyaanmu. Aku sendiri belum menikah; kau yang perlu mendengarkan keluh kesahku. Agar aku tak menjadi lelaki macam suamimu. Lalu bagaimana aku bisa menyebut suami macam apa lelakimu itu. Suamimu itu....

Kletek, September 2011

Citra D. Vresti Trisna

Jumat, 12 Agustus 2011

Autis


Apa yang ada dipikiranmu ketika aku menyebut kata autis? Apa kau akan mengerenyitkan dahi, heran, atau justru sok cuek, macak bodo, macak longor, atau justru terkejut dengan muka penuh perhatian dan guling-guling di tanah? Bagus! Jangan sampai Anda melakukan hal yang terakhir. Bodoh namanya. Karena ini juga tulisan yang tidak penting untuk diperhatikan, tidak masuk unas, SMPTN, dan juga jadi pitakon kubur. Jadi nyantai saja.

Autis ternyata bukan hanya sebuah kelainan dan gangguan psikologis pada seseorang dimana itu menghambat perkembangan mentalnya (ngawur). Autis juga bisa berarti sedang sok cuek, mengerenyitkan dahi, macak bodo, macak longor (seperti apa yang lakukan tadi. hahahaha) .

Seperti yang sedang saya alami tiga hari ini. Berdiam diri di tempat yang sama, tidak kemana-mana sepanjang siang, malam, hanya untuk ndalbo (baca: ngeblog). Ini terjadi ketika aku kembali menemukan paswordnya (sudah ku jelaskan di posting sebelumnya) dan karena inilah aku menjadi autis. Tidak beranjak kecuali pipis, makan, sholat, mengambil buku, dan beli rokok. Aku menyadari begitu simpel alasan seseorang untuk tiba-tiba menjadi autis, sehingga hampir disepanjang hidup kita –karena ada banyak hal yang datang dan pergi- maka besar kemungkinan kita telah pandai untuk urusan ber-autis ria.

Karena autis, mungkin di sekitar kita sudah banyak yang mati karena sikap kita: konflik palestina, konflik papua, urusan GAM, jutaan orang kelaparan di berbagai belahan dunia, mereka yang mati di jalanan akibat diusir dari RS, dll. Sementara kita merasa seperti tidak terjadi apa-apa dan semua berlalu begitu saja. Yang pemerintah sibuk urusan nama baik; SBY gembeng terus aja caper; pers ngurusi Nazarudin kempung; pers mahasiswa ngurusi agenda pembunuhan Tuhan ramai-ramai; ada yang ngurusi fashion; ada yang ngurusi blognya (saya); ada yang sedang baca blog saya sambil berlagak bodoh, sok cuek.

Jadi begitu mudah kita terjebak pada sesuatu amoral yang tidak punya hati. Apa lagi? Mau protes, tidak terima, tidak ada sebutan lain kecuali amoral yang tega membiarkan orang di sekitarnya mati. Jadi lebih baik mana: kita sok cuek, berlagak bego, atau sebaliknya guling-guling di tanah? Atau malah mulai berpikir: apa yang harus aku lakukan Tuhan? Atau….

Nb: ini bukan sedang memarahi atau menyinggung anda. Sebab saya sedang mengingatkan diri saya sendiri.

Citra D. Vresti Trisna, ngelak n lue di Goa, Agustus 2011

Kamis, 11 Agustus 2011

Sedikit cerita soal pagi

Melihat pagi tiba: wajah alam paling teduh yang begitu sayang untuk dilewatkan. Melihat pagi, ah, begitu ganjilnya tanpa sebungkus rokok dan segelas kopi pahit. Kupikir tidak ada salahnya, sebab sekarang sedang puasa.

Pagi di kampusku mengingatkan aku saat hidupku sudah bermakna di awal-awal hari; duduk di beranda kantor sekertariat bersama, dengan menanti merahnya matahari terbit sembari menunggu peserta pra diklat LPM SM. Kalau tidak salah selama dua minggu aku duduk di tempat yang sama untuk memberikan materi; segala tetekbengek jurnalistik. Juga dengan diskusi dan meladeni pikiran-pikiran muda yang over dosis. Menyaksikan perubahan masa transisi dari SMA ke perguruan tinggi. Kadang aku sungguh-sungguh menyimak, kadang tidak. Itu kalau sudah jengah dengan pertanyaan khas yang bersifat menguji dan ingin sekedar diperhatikan. Tapi ketika aku kembali menikmati sejuk angin pagi dan kembali menyeruput kopi pahit, aku ingat, aku juga pernah mengalami masa-masa itu. Maka ku urungkan segala arogansiku.

Benar saja, waktu bercermin yang tepat adalah ketika hati tidak terlalu rusuh. Lalu kapan pikiran-pikiran itu tak lagi rusuh? Ya dengan menyeruput pagi dengan bau tanahnya yang basah. Melihat segala temaram menjadi terang. Orang-orang berlalu-lalang. Aih, teduh sekali, God.

-

Pagi: menyaksikan segalanya menjadi terang dari balik jendela dan kesegaran angin yang menerobos begitu saja tanpa permisi, mengipasi dadaku yang kering.

Ini adalah sepotong pagiku di kamar rumah; yang suram; pengap asbak penuh putung rokok yang baunya mencucuk cuping hidung. Buku-buku berserakan di kiri kanan dan menimbulkan rasa tak nyaman. Kalau matahari sudah meninggi beberapa jengkal, biasanya mataku akan terasa sangat panas karena membaca dan begadang semalaman. Percayalah, kalau kau memiliki kesamaan denganku, lupakan cita-citamu untuk memperistri dokter-doketer muda, atau perawat. Gaya hidup yang tak masuk akal dan jauh dari sehat.

Sekali lagi, percayalah, tengiknya nasib budaya dan paradigma masa depan cerah sudah begitu diskriminatif pada orang-orang macam kita.

Mengingat hal ini, pikiranku jadi langsung menuju kepada saudara seperguruan yang dibesarkan dari jumat yang sama. Tulus, namanya. Ia juga menghendaki seorang dokter tanpa melihat siapa dirinya dan apa yang dilakukannya dengan paginya. Kasihan, ternyata cinta itu tak bisa dipaksakan dan juga aku tak bisa mempercayai bila di dunia ini masih ada ketulusan. Bohong.

Pagi. Dan pikiranku melayang kemana-mana. Berlari kencang , tak mau di tangkap.



Citra D. Vresti Trisna, Goa, Agustus 2011