Selasa, 26 Januari 2010

catatan - kopi rokok

Pada awalnya hanya seputar sastra dan sebuah proses kreatif. Nasihat berseliweran dimana yang memang bukan ditujukan untukku. Semua berselimut dengan sebuah awan tebal yang berupa misteri yang membuatku begidik. Antara semua yang logis dan tak logis. Pandangan menjijikkan dan yang biasa saja berseliweran nongkrong di hidungku.
Ah, apa ini. Hidup macam apa ini. Sudah begitu jelas bagaimana sebuah hidup harus aku tempuh. Bagaimana derita dan bahagia harus dijalani. Inikah yang seperti dikatakan Emha Ainun Nadjib bila apa yang dilakukan kehidupan orang macam kita begitu ndagel. Dan hanya aku yang meminta kepada Tuhan sebuah jalan dimana arti kehidupan. Benar saja, aku petunjuk itu datang sekalipun masih berupa awan gemawan yang masih sangat kelabu.
Aku tau dan betapa tidak begitu goblok untuk paham bila itu adalah sebuah petunjuk. Tapi dengan tamak, aku terus meminta lagi kepada Tuhan, sekalipun tanpa menengadahkan tangan. Dan bahkan aku dengan sombong mencari sendiri kontemplasi ekstrim dengan teman segelas kopi dan rokok.
Apa kalian bisa memberikan nama bagi orang yang tak pernah bisa mengambil pelajaran dari hidup yang kata mereka sebagai tempat numpang ngopi dan ngerokok.

Citra Dara Vresti T

Selasa, 19 Januari 2010

Busuk anjing Penggila Vagina

4:52pm Samrone
tu dulu klo kyak gni slhkan mninggalkan
4:52pm Nita
mosok

4:52pmSamrone
yo ayo ambek kowe t
xixixi...

4:52pm Nita
ndasmu sempal

4:52pm Samrone
aq wez g beta

4:52pm Nita
bojoku luweh ngganteng

4:53pm Samrone
ndas maneh

4:58pm Samrone
ndas maneh

4:58pmSamrone is offline.
4:58pmSamrone is online.

4:58pmSamrone
di takoki ndas seng endhi g djwb

slingkuh g btuh muka tpi ksnangan
di takoki ndas seng endhi g djwb

slingkuh g btuh muka tpi ksnangan

4:59pmNita
mosok
aku gak doyan selingkuh
bojoku wes guanteng
eman

5:01pmSamrone
gyamu sek kaet dhuwe bojo gnteng ae eman
ahahaha...
ambk aq g glem

5:02pmNita
ndasmu bojo ku ndisek ganteng2
la nek iki luweh ganteng dol

5:03pmSamrone
wok isok ae....

5:03pmNita
koen ae la gek ndowe bojo ayu saiki

5:03pmSamrone
berarti nek elek bjomu
gelem ambek aq yo
hahaha....

5:04pmNita
ndasmu, gak level aku karo koen

5:04pmSamrone
medeni fotone sopo kuwi

5:04pmNita
seng senengane cuma duwek ambek vagina tok. wleeek

5:04pmSamrone
lho aws kowe tak gwe kowe klpek2 nang aku lho yo....
hahahah...

5:05pmNita
halah gak kiro aku seneng koen
kate ndukun a?
lali lek aku arek ndi? hahaha

5:05pmSamrone
ah tpi kowe saiki nang tanah madura
hahahaha...
justru vagina iku enk
hahahaha...

5:06pmNita
emboh wes nggilani koen iku

5:06pmSamrone
hahahaha......
5:06pmNita
guyone arogant
gilo aku

5:07pmSamrone
biasa g mslah
opo maneh vaginae g onk rmbute
hahahahaha....

5:07pmNita
hiih tak kandakno bojomu

5:07pmSamrone
muantab
hahahahha

Sebuah percakapan di Facebook antara kekasihku Nita dengan seorang Polisi. Dia adalah kekasih dari Nina seorang yang selalu menjahati dan memfitnah kekasihku dengan Oo yang juga kawan baik Nita. Nina adalah kawan satu kontrakan dengan Nita, juga dengan Oo.

Sebuah percakapan yang dilakukan oleh lelaki yang tak tahu malu. Dan aku rasa benar bila selama ini masyarakat mengecam mentalitas dan moralitas mereka dengan sebutan bejat. Seperti yang pernah aku tulis dalam sebuah cerpen dan tulisan-tulisanku, dimana mereka hanya dapat tersenyum dengan uang dan Vagina. Lain tidak.
Ucapan sangat kurang bermoral dengan enteng saja diucapkan. Apalagi dengan seorang wanita, serta tanpa sungkan-sungkan mengutarakannya tanpa rasa malu. Sudah tahu kekasihku merasa jijik dan muak dengannya namun masih saja ia nekat manawarkan kelaminnya pada siapapun wanita yang mau dibodohi dan terjerat olehnya.

Nita juga pernah hampir terpedaya dengan muslihat kekasihnya dulu yang juga seorang anjing. Ternyata kekasihku rencananya hanya akan dijadikan tempat pelampiasannya saja. Namun setelah itu terbongkar oleh Nita, bila sesungguhnya lelakinya telah memiliki seorang tunangan. Anjing. Bangsat itu keparat.


citra dara vresti T

catatan - kangen

Sudah begitu siang aku pulang dari mangang. Mampir kesana-kemari mencari tempat orang mencari tempat orang yang menjual nasi karena perutku sudah tak lagi tahan dengan siksaan lapar. Sesampai di kontrakaanku tepatnya di daerah perumahan Gili kubuka pintu yang engsenlnya selalu membuatku naik darah setiap hendak membukanya dan menutupnya. Aku meletakkan tas punggungku di kamar paling belakang. Kusaksikan sebuah foto seorang wanita dengan bingkai dari kertas karton – seorang yang ada diwatiku – dimana saat ini dia sedang jauh denganku. Aku menghela napas, ku kecup fotonya sekali seraya melangkah kedepan dan membuka nasi yang telah aku beli sepullang magang tadi.
Nasi putih yang aku makan dengan lauk kesukaanku kacang dan ikan teri dan dijadikan semacam sambal goreng yang aku bawa dari rumah. Aku menyukainya karena selain tahan lama, makanan inilah yang membuat aku menjadi ingat rumah. Kemarin, juga dengan makanan ini aku menikmati saat-saat merayakan perpisahan karena Nita yang hendak KKN, juga menikmati makanan ini. Ia ikut makan bungkusan yang aku bawa dari rumah. Dia senang, aku pun senang.
Baru kiranya dua hari aku telah tanpa Nita, namun begitu terasa ada bagian yang hilang dari kehidupanku. Aku berusaha menikmati apa yang aku alami dengan tiadanya Nita disampingku, dan nyatanya aku tak bisa. rasa rindu ini lebih berhasil dalam memenjara kehidupanku dengan begitu telak sekali. Seandainya aku bisa bilang jangan. Ah percuma, dia akan tetap pergi. Seperti yang diutarakannya dulu sewaktu kita berselisih paham. “Aku berangkat ke tempat ini adalah untuk kuliah, bukan semata-mata untuk mu, untuk sekedar pacaran”. Sudah. Aku bingung, harus dengan kata apa lagi aku menghadapinya. Aku tau dia benar.
Aku ingat saat aku mengantarnya ke kampus untuk mengikuti upacara pelepasan mamahasiswa yang akan berangkat KKN. Sebuah pelukan dan janji akan kembali untukku tak juga membuat aku sedikit tenang. Entahlah aku takut kehilangan dia. Apalagi kehilagan cintanya.
*
Setalah selesai makan, kunyalakan lagu dari cahaya bulan dari laptopku dan aku tertidur dengan lelap.
Aku mendapati sebuahh mimpi aneh, tentang ibuku dan keluarga dari Buk Yani. Ah, cuma mimpi siang, barangkali mereka merindukan kedatanganku lagi. Kuacuhkan saja.
Kulihat jam di ponselku. Pukul empat dua puluh lima. Saat ku lihat ponselku, aku mendambakan adanya pesan masuk dari Nita. Tapi tak kutemukan apapun kecuali jam digital di ponselku. Kertinduan telah begitu jauh melumpuhkan logikaku dan kekuatanku. Sudahlah, cuma satu bulan dia pergi. Dan aku pikir, aku akan terlalu cengeng jikalau sampai terseok-seok meratapinya.
Hari ini aku akan ke tempat si Depy di Telang Asri. Mungkin dengan canda tawa dari orang-orang yang ada di kontrakannya – Tahu, Qorib bisa membuatku lepas dari rasa suntuk. Semoga.

Citra Dara Vresti T

Jumat, 15 Januari 2010

Rori n bidadari

Rori : adalah pelukmu yang kurindukan sebagai pelengkap sore ini, bersama secangkir teh dan rokok.
Bidadari : sanggup gak yank y aku gak ktmu chyank
Rori : jangan buat aku kesulitan untuk membedakan antara kau dan bidadarga surga itu.
aku pribadi gak akan sanggup lepas dari jeratmu yank.
ah, nitaku mengapa kau ditakdirkan dengan begitu cantik di rupa dan hatimu, ketika tulus mencintaiku
bebatuan yang jadi permata mana lagi yang sanggup bayar itu semua.
ah cinta. betapa sunyi malam minggu ini.

Rabu, 23 Desember 2009

002/1

Catatan hari ini.
Hari ini aku menginap di rumah seorang kawan. Aku terbangun karena perutku teramat sakitnya dan begitu mulas. Aku tersenyum. Ah inspirasi akan datang, pikirku. Ku ambil sebatang rokok dan kusulut untuk sekedar sedikit berlama-lama di WC dan berfikir.
Hampir separuh rokokku telah tandas percuma tanpa sebuah lintasan pikiran yang menarik untuk difikirkan. Karena tak ada hal baru dan menyimpang lainnya, maka aku putuskan untuk menggali persoalan-persoalan sebelumnya yang tak rampung. Dan semua masih tentang hal yang sama seputar kampus – penyusunan strategi dalam mengusung calon komunikasi menjadi gubernur di BEM

ini orangnya. jelek dan mengecewakan kan?



– dimana selalu membuatku mengerenyitkan dahi. Dan betapa sulitnya untuk menjadi orang baik di tengah-tengah kepungan kebusukan politik setaraf mahasiswa. Mau tak mau kebusukan yang diarahkan kepada kita harus kita atasi dan di tangkis dengan kebusukan pula. Bagaimana tidak, jalan menempuh politik dengan cara yang baik bukan lagi pilihan yang popular dan menghasilkan.
Ada yang menggelitik di luaran sana. Aku digosipkan sebagai calon presma oleh banyak orang karena calon yang maju dari komunikasi dianggap kurang kredibel dan kapasitasnya masih diragukan di tataran aktivis. Ah, tau apa mereka menilai orang dengan begitu mudah dan begitu membunuh karakter. Apa karena calon yang berangkat dari komunikasi ini memang tak punya track record di bendera hingga dipandang tak layak? Ah begitu piciknya pemikiran mahasiswa eksternal saat ini.
Bagi mereka bendera menjadi semacam penentu layak dan tidaknya seorang itu pantas menjadi seorang pemimpin atau tidak. Bendera juga menjadi penentu kemenangan seorang calon. Kalau memang orientasi dari sebuah organisasi eksternal kampus hanya demikian, berarti organisasi itu hanya sekedar sampah dan mesin pencetak mahasiswa bermental primordial.
Keberadaan organ eksernal hanya sebagai pupuk yang menyuburkan praktik dan pemikiran primordialisme ekstrim. Sekalipun bajingan, pecundang, dan bromocorah disebuah organ ekstra ikut dalam pencalonan baik presiden mahasiswa, BEM, dan HMJ maka dia bukan lagi seorang bajingan, pecundang, dan bromocorah lagi, melainkan seorang malaikat. Kalau ada seorang malaikat yang ingin mencalonkan dan berangkat dari independen, maka ia akan tetap seorang bajingan. Disinilah proses dimana obyektivitas sebagai seorang manusia hancur dan di cacah-cacah tanpa sisa. Tak ada penilaian pribadi dengan hati nurani karena digantikan penilaian kolektif yang didasarkan pada sekedar kepentingan. Ah taik kucing.
Rokokku hampir tandas. Perutku sudah tidak lagi terasa mulas. Karena WC disini tak memberikan kenyamanan untuk berfikir, untuk menghayal seolah-olah aku adalah orang yang maha kuasa. Kemudian dengan kuasaku menggasak mereka yang seakan-akan menjadi tuhan-tuhan kecil dalam kehidupan.
Ah betapa panjang proses hidup ini. Aku masih mahasiswa, masih panjang jalanku kedepan, masa semuda ini aku sudah menjadi bajingan. Lantas akan jadi apa aku dimasa mendatang. Penjahat.

citra dara vresti T
24 des 09

Minggu, 06 Desember 2009

001/1/

Catatan hari ini 6/12/09
Seorang yang tengah asik dengan rokok dan kopinya. Pelan sekali ia menghisap lintingan tembakau di jemarinya. Pelan dan berhati hati sekali ia menghirup kopi panasnya, dengan bibir keriput yang bergetar karena dimakan tua. Selembar uang ribuan di samping kopinya dan sepertinya yang akan dipakai untuk membayar nanti.
Kopinya tinggal separuh. Pak tua melirik pisang goreng yang ada di sampingnya. Ia kembali menghela napas dan menatap lembaran uang yang ada di mejanya. Dihisap rokok kreteknya dalam-dalam, mungkin menahan, atau mungkin menangis dalam diam. Atau dia sebenarnya tak menangis, hatinya telah tebal oleh sayatan pisau kehidupan. Dan ku pikir, aku lah yang lemah. Aku lah yang selalu merengek dengan ini itu baik pada diriku sendiri, atau pada malam.
Hah, begitu mudahnya kehidupan bagi dirinya. Simple dan tak rumit karena penjara dan kekangan keinginan, serta kebutuhan ini dan itu.
Kembali tangannya gemetar ketika menghisap rokoknya. Mungkin lapar. Rasa-rasanya ingin aku menyuruhnya mengambil pisang yang sedari tadi diliriknya, tapi selalu ku urungkan. Takut dibilang sombong, takut dibilang menghina, takut bila ia tersinggung, dan semuanya terjadi begitu saja tanpa dapat aku bending.
Ah, sebagai manusia. Aku tergolong pengecut. Takut pada sesuatu yang tak jelas dan belum tentu terjadi. Berkali-kali kuberanikan, namun terhenti. Begitu seterusnya.
Kemudian aku meneleng ketika melihat di tv warkop berita tentang penganiayaan beberapa mahasiswa oleh oknum Polisi yang setelah diusut ternyata salah tangkap. Sebagai pernyataan bersalahnya, mereka hanya memita maaf kepada mahasiswa yang telah dianiaya. Mahsiswa itu menolak. Ia lebih memilih untuk memperpanjang masalah ini ke jalur hukum. Di polda metro jaya mereka melaporkan semuanya.
Hah, ini berita. Kok masih ada orang yang suka berbuat se enaknya? Andai saja yang dilukai oleh para anjing itu orang-orang yang gak ngerti hukkum, orang yang tak punya daya untuk melawan, dan semuanya akan hanya terbenam dan tenggelam tanpa banyak yang tau, kejahatan yang sesungguhnya siap mengancam kita. Dasar biadab. Tak aka ada habisnya.
Kembali aku saksikan Pak tua yang tadi. Kopinya akan tandas setegukan lagi, dan rokoknya juga akan tandas beberapa hisapan lagi. Bimbangku kembali menjadi. Keragu-raguan membuatku kembali tersadar betapa aku tak mampu harus melakukan suatu hal. Kini bayanganku melayang, akan cita-citaku tentang hal besar. Dan lagi aku bertemu dengan ironi.
Pak tua menoleh kebelakang. Sebuah gerobak dengan isi sampah yang hampir penuh telah menunggu. Ia tampak tak ingin lagi berlama-lama. Ia membayar semua yang ia bayar kepada penjaga warkop akan kopi yang ia pesan tadi.
Ia berdiri, sejurus kemudian kutawarkan padanya rokokku. Ia mengambil sebatang dengan senyum lebar dan mengucap terima kasih padaku. Dia tersenyum kembali sebelum pergi. Dan aku semakin telanjang dengan segala penyesalan pada diriku. Kenapa tadi tak kutawarkan pisang goreng yang dilihatnya dari tadi dengan bibir berkecap-kecap. Aku dihajar sejuta perasaan bersalah.
Lagi, sebuah berita mengganggu. SBY kebakaran jenggot dengan kasus dugaan aliran dana bank century sibuk jelasin kalo itu fitnah. Takut jadi Gus Dur edisi kedua yang modar karena skandal bulog. meskipun sby pernah punya pengalaman serupa namun yang kali ini pasti dijamin asik. SBY ngguling, trus aku yang jadi presidennya.
Sri Mulyani merem melek ke parpol-parpol.
Suasana semakin malam. Aku meneruskan perjalananku ke Madura dengan mengantar kawanku ngamen ke kosnya.
Dengan cepat kapal menjadi semakin penuh. Aku duduk diantara sekumpulan pedagang dan pekeja kasar yang melepas lelah. Lagi-lagi wajah kemput dengan garis-garis tegas di wajah menghisap rokok kretek. Bau kringat yang syarat akan wangi perjuangan memenangkan nasib. Dadanya dihembusi angin selat Madura karena bajunya sudah tak lagi terkancing dengan benar. Apa mungkin ia sedang menantang nasib yang tambah kurang ajar?
Aku tak tau. Tapi sepertinya ya.

Rabu, 25 November 2009

waktu yang akan dirindukan/ rekaman kita

bersenang2 dengan Nita. hmm

waktu seperti inilah yang besok akana kita rindukan. video

kemudian yang juga gak akan terlupa

video